Jumat, 28 Februari 2014

Hewan yang Diabadikan dalam Al Quran : Domba Nabi Ismail

Tidak ada yang beriman pada Ibrahim, kecuali Sarah, anak perempuan pamannya, yang akhirnya menjadi istrinya, dan anak laki-laki saudaranya, Luth. Setelah keluar dari Babil, Irak, Ibrahim sampai di Syam. Allah memberinya wahyu:
“Aku menjadikan tanah ini bagimu dan keturunanmu”. 
Ibrahim tinggal di Syam, hingga akhirnya tibalah masa kemarau yang panjang.
Ibrahim dan Sarah pergi ke Mesir. Raja Mesir saat itu punya kebiasaan buruk, bahwa saat ia melihat wanita cantik, maka ia akan menjadikannya miliknya. Para pengawal menemui raja dan mengatakan bahwa wanita cantik itu bernama Sarah, datang bersama suaminya. “Bawalah wanita itu ke hadapanku,” perintah Raja. Ibrahim takut raja menyakiti Sarah jika ia tahu bahwa ia adalah istrinya.
Maka ia berkata pada Sarah, “Di dunia ini, selain aku dan engkau tidak ada yang muslim. Jika engkau ditanya, katakanlah bahwa engkau adalah saudaraku.”
Sarah setuju terhadap saran Ibrahim, dan berdoa kepada Allah Swt.: “Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku beriman padamu, kepada utusanmu, dan aku menjaga kemaluanku kecuali pada suamiku, maka jangan biarkan orang kafir menguasaiku.” Raja bermaksud menyentuhnya, saat ia sudah hamper dekat, tiba-tiba tangannya lumpuh. “Apa yang terjadi?”, Tanya Raja.
"Ini perbuatan Tuhanku,  jawab Sarah.
"Berdoalah pada Tuhanmu, aku tidak akan melukaimu.”
Sarah mendoakannya, namun Raja kembali melakukan perbuatannya. Tangannya lumpuh lagi. Sarah kembali berdoa, setelah ia berjanji tidak akan menyentuhnya lagi. Namun Raja mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya. Sarah kembali mendoakannya. “Ini adalah kebenaran. Demi Allah, aku tidak akan pernah melukaimu,” kata Raja.
Raja berkata kepada para pengawalnya, "Apakah engkau membawa kepadaku seorang perempuan atau setan?"
Raja mengembalikan Sarah pada Ibrahim, dan memberinya uang dan hadiah, kambing dan sapi, dan memberinya seorang budak perempuan, Hajar.
Sarah kembali menemui Ibrahim, dan melihatnya sedang salat. “Allah telah melindungiku dari orang zalim. Raja memberiku Hajar,” kata Sarah.
Ibrahim kembali ke Syam bersama Sarah. Istrinya yang cantik itu mempunyai segala hal yang didambakan oleh setiap lelaki, kecuali satu hal, bahwa ia belum bisa melahirkan seorang anak, sedangkan ia kini telah menjadi seorang nenek dan Ibrahim seorang kakek.
Sarah merasakan apa yang ada dalam pikiran Ibrahim, maka ia memberikan Hajar pada suaminya untuk dinikahi. Allah memberinya seorang keturunan yang saleh yang kelak akan memakmurkan bumi setelah Ibrahim. Ibrahim menikah dengan Hajar yang berkebangsaan Mesir.
Setelah sembilan bulan mengandung, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan untuk Ibrahim.
Setelah hamil sembilan bulan Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, Ismail.
Kehadiran Ismail menjadikan suasana rumah yang berbeda, ada keriangan dan keceriaan di sana. Karenanya, hati Sarah terusik. Ia menduga bahwa sekarang Hajar akan melebihi dirinya; ia berharap seandainya Allah memberinya seorang anak seperti halnya H`ajar. 15
Ibrahim memiliki sifat yang mulia, sehingga disebut “Bapak Dua Tamu”, bahwa jika tidak ada tamu yang mengunjunginya, ia akan mencarinya. Pada saat ia sedang duduk di depan rumahnya, datanglah para lelaki yang berpakaian serba putih.
“Assalamu‘alaikum”.
“Semoga keselamatan juga menyertai orang-orang yang kami tidak kenal,” jawab Ibrahim.
Ia menemui keluarganya, lalu menghidangkan daging anak sapi jantan yang gemuk, dan mempersilahkan para tamu untuk menyantapnya.
“Kalian tidak makan,” Tanya Ibrahim heran.
Namun mereka tetap tidak menyentuh makanan tersebut. “Sebenarnya siapa kalian. Sungguh kami sangat takut pada kalian”.
“Jangan takut. Kami adalah malaikat Allah yang diutus bagi kaum Luth”.
Sarah memerhatikan kejadian tersebut dari dekat, sehingga ia tertawa melihat ketakutan suaminya, karena sesungguhnya ia tahu bahwa mereka adalah para malaikat.
Malaikat berkata pada Sarah, “Kami membawa kabar gembira dengan kehadiran seorang anak yang cerdas.”
Sarah terperanjat: seorang nenek-nenek yang mandul bisa melahirkan, dan suaminya seorang kakek-kakek; ini merupakan sesuatu yang ajaib.
“Aku sudah tua, bagaimana kau bisa menyampaikan kabar gembira ini,” Tanya Ibrahim.
“Kami tidak main-main, janganlah termasuk orang-orang yang berputus asa,” para Malaikat meyakinkan.
“Orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah orang yang tersesat,” timpal Ibrahim.
Sarah hamil, lalu melahirkan Ishaq; Ibrahim bahagia karenanya:
“Segala puji milik Allah yang telah memberikan Ismail dan Ishaq pada masa tuaku. Sesungguhnya Allah Mahamendengar doa”.
Sarah merasa kurang nyaman dengan kehadiran Hajar, maka ia meminta Ibrahim membawanya jauh darinya.
Allah mewahyukan pada Ibrahim untuk mengabulkan permohonan Sarah; pergi bersama Hajar dan Ismail. Allah akan memberkati dan menjadikan keturunannya penuh berkah.
Ibrahim berjalan hingga sampai ke negeri Paran—sekarang Jabal Makkah. Hajar masih punya setengah roti dan sekantung air. Ibrahim meninggalkannya bersama anaknya.
“Kau meninggalkan kami di sini tanpa air dan makanan, serta tak ada seorang pun,” tanya Hajar.
Ibrahim tak menjawab. Ia tetap diam.
“Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?”
“Ya”.
“Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Kemudian Ibrahim pergi menuju Syam. Ia berdoa pada Allah: “Tuhan kami, aku menempatkan keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di rumah-Mu tanah haram. Tuhan kami, jadikanlah hati manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.”
Allah mencukupi segala kebutuhan Hajar dan bayinya, Ismail, yang hidup di gurun pasir yang luas. 16
Air dan roti telah habis. Hajar dan Ismail kehausan, namun tidak ada air. Ia berjalan sampai jauh dari Ismail, hingga ia tidak bisa melihat anaknya menangis kehausan. Hajar naik gunung Shafa; itulah tempat yang paling dekat, ia berharap bisa menemukan air.
Lalu ia berlari-lari kecil—karena merasa lelah, hingga sampai ke gunung Marwah, namun ia tidak menemukan air, dan tidak melihat seorang pun.
Ia kembali dan mengira bahwa anaknya telah mati.
Namun sungguh ajaib, di bawah kedua kaki Ismail terdapat air. Allah telah memancarkannya. Hajar berseru, “zum…zum”; ia khawatir air itu akan segera habis. Lalu ia minum, dan member minum anaknya dari sumur zam-zam.
Rombongan pedagang yang sedang lewat melihat seekor burung terbang mengitari gurun—pertanda ada air, maka mereka menghampiri tempat itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
Mereka melihat air, Hajar, dan Ismail. Mereka minta izin tinggal di tempat ini. “Kalian boleh tinggal di sini…namun kalian tidak berhak atas air ini,” kata Hajar.
Akhirnya, Hajar dan Ismail tinggal bersama kabilah Jurhum, setelah mereka membawa seluruh keluarga mereka.
Ismail hidup di tengah-tengah mereka, dan belajar bahasa Arab. Mereka kagum terhadap kejujuran, ketekunan salat, dan kenabiannya. Mereka menikahkannya dengan salah satu perempuan mereka, sehingga Ismail memberikan keturunan dari mereka. Dan terpenuhilah janji Allah terhadap Ibrahim.
Ibrahim rindu pada anaknya, Ismail. Ia menyiapkan perbekalan untuk perjalanan dari Syam ke Makkah.
Saat Ibrahim bermaksud minum di sumur zam-zam, ia melihat seorang pemuda di bawah pohon yang sedang meraut anak panah di dekat sumur. Saat Ismail melihatnya, ia mengenalinya, maka ia bangkit menghampirinya untuk berbincang dengan ayahnya, kekasih Allah (khalîlullâh) yang tidak pernah dilihatnya dalam masa yang lama.
Kemudian Ismail mengajak Ibrahim ke rumahnya. Saat Ibrahim tidur ia bermimpi menyembelih anaknya—mimpi para nabi merupakan wahyu dari Allah. Ibrahim memanggil anaknya, Ismail.
Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, „Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,‘“ (QS Al-Shaffât [37]: 102).
Ibrahim membawa tali dan pisau. Iblis menemui keduanya dengan menyamar sebagai seorang laki-laki.
“Kau hendak ke mana, pak tua?”
“Kami mau ke bukit”.
“Mungkin saja setan menemuimu dalam mimpi dan menyuruhmu menyembelih anakmu”.
Ibrahim mengenali Iblis. “Menjauhlah dariku, wahai musuh Allah”. Lalu setan menemui Ismail. “Ayahmu akan membunuhmu, Ismail”.
“Lakukanlah apa yang Allah perintahkan…karena patuh dan taat pada Allah,” kata Ismail.
Ibrahim dan Ismail sampai di bukit. Rasa kebapakan Ibrahim muncul; ia adalah seorang ayah disamping sebagai nabi. Ia akan menyembelih anaknya yang baru saja bertemu dengannya setelah bertahun-tahun berpisah. Ibrahim berkata pada ayahnya, 17
“Ayah, jika akan menyembelihku, perkuatlah ikatannya, tutuplah mukaku, sehingga kau tidak melihat wajahku—yang bisa menyebabkan kau melanggar perintah Allah, copotlah bajuku untuk mengkafaniku.”
“Anakku, engkau sebaik-baik penolong dalam menjalankan perintah Allah”.
Ibrahim mengasah pisau yang akan memotong urat leher buah hatinya. Ismail berbaring dan menyerahkan segalanya pada Allah.
Tiba-tiba ada suara memanggil:
Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata,” (QS Al-Shaffât [37]: 104-106).
Ibrahim menoleh, ia melihat biri-biri putih tua, sebagai tebusan bagi Ismail.
Ibrahim senang tiada tara.
Air matanya berlinang membasahi janggutnya yang putih, dipeluknya Ismail: “Anakku, hari ini kau diserahkan padaku”.
***
Tempat Ka‘bah al-bait al-haram telah hilang menjadi sebuah bukit rendah yang merah.
Allah mewahyukan pada Ibrahim, “Bangunlah sebuah rumah untukku di sini.” Ibrahim menemui Ismail.
“Allah menyuruh kita menyucikan rumah-Nya untuk orang-orang tawaf, iktikaf, rukuk, dan sujud”.
Lalu keduanya menuju tempat rumah itu, dan bersiap-siap untuk membangunnya sambil berdoa:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), „Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji), dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,” (QS Al-Baqarah [2]: 127-129)
Ibrahim membuat tanda sebagai petunjuk bagi manusia untuk memulai dan mengakhiri tawaf.
“Anakku, carilah sebuah batu yang paling bagus untuk kujadikan tanda di sini”. Ismail datang terlambat. Saat ia datang, Allah telah menurunkan batu hitam (hajar aswad) dari langit pada Ibrahim.
“Ya Allah, kami telah selesai membangun rumah-Mu”.
“Perintahkan orang-orang untuk melaksanakan haji”.
“Bagaimana caranya, sedangkan suaraku lemah”.
“Kewajibanmu adalah menyeru; Aku yang akan menyampaikannya. Katakanlah: ‗hai manusia, diwajibkan bagimu berhaji ke rumah tua, Ka‘bah. Maka kalian telah memenuhi kewajiban pada Tuhan.‘“
Ibrahim berdiri di dataran tinggi menyeru manusia. Manusia berdatangan dari segala penjuru yang jauh. 18
Generasi terus berganti, keturunan Ismail bertambah banyak, hingga Allah mengutus pada mereka Muhammad Saw., cucu Ismail—yang disembelih, anak Abdullah—yang disembelih. Jadi beliau adalah putra dua orang yang disembelih. 
Pelajaran Berharga:
1. Tidak putus asa dari rahmat Allah.
2. Tawakal pada Allah, dan selalu berdoa pada-Nya.
3. Allah tidak akan melupakan hamba-hamba-Nya yang mengesakan-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Android Tips, Tecno Android Phones and Download 2go