Selasa, 07 Januari 2014

Hewan yang Diabadikan Dalam Al Quran : Burung Gagak Anak Adam

“Allah Swt. berfirman, „Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, „Sungguh, aku pasti membunuhmu!‟ 
Dia (Habil) berkata, "„Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.‟
„Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.‟ Maka, nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah ia termasuk orang yang rugi.
Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya mengubur mayat saudaranya. Qabil berkata, „Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku ini?! Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal,‖ (QS Al-Maidah [5]: 27-31).
Adam durhaka pada Tuhan-nya. Adam memakan buah khuldi yang telah Allah haramkan baginya dan istrinya di surga. Sebagai hukumannya, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, meninggalkan surga dan beragam kenikmatannya. Hal ini merupakan kemenangan pertama bagi setan atas Adam dan keturunannya, setelah ia tercampakkan dari rahmat Allah karena menolak bersujud bersama para malaikat kepada Adam atas perintah Allah Swt. Namun, Allah menerima taubat Adam dan Hawa, dan mengampuni dosanya. Bumi merupakan tempat bertaubat, bukan tempat siksaan. Maka setan merasa sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Ia pun menunggu kesempatan yang tepat untuk menggoda Adam dan keturunannya agar durhaka kepada Allah.

Kehidupan di dunia ini sangat sulit dan menyakitkan karena sebelumnya Adam dan Hawa merasakan kenikmatan surga. Di surga keduanya merasa kenyang, tidak lapar dan haus. Surga tempat istirahat, dan tidak melelahkan. Sebaliknya, hidup di dunia harus bekerja dengan gigih dan tekun. Bekerja agar mampu membeli makanan dan minuman. Jika tidak, maka perut akan berbunyi karena lapar, dan hati akan terbakar karena haus.

Adam dan Hawa dapat melihat dan merasakan kelelahan dan kesakitan tersebut, maka keduanya sangat sedih karena telah berpisah dengan surga dan beragam kenikmatannya. Keduanya pun menangis berharap dapat kembali merasakan kenikmatan dan kesenangan surga. Namun, tidak akan masuk surga kecuali setelah kematian. Sepasang suami-istri itu pun, Adam dan Hawa, menghadapi kehidupan dunia yang melelahkan. Adam a.s. berfikir serius: ―Aku dan Hawa hanya berdua, tidak ada orang ketiga bagi kami, maka untuk siapakah syariat yang telah Allah berikan kepadaku?"

Adam ingat janji Allah Swt. bahwa anak dan keturunannya akan bertebaran di muka bumi ini, maka ia pun menunggu saat kelahiran anak-anaknya tersebut. Waktu terus berputar, hamillah Hawa. Ini merupakan kehamilan pertama di muka bumi. Adam merasa senang dan sangat bahagia. Tibalah saat melahirkan setelah sempurna sembilan bulan usia kandungan yang disertai kelemahan dan kepayahan yang dirasakan Hawa selama mengandung tersebut. Saat itu merupakan masa yang sulit dan mencemaskan. Bau kematian muncul berkali-kali pada saat itu, seakan-akan Hawa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Namun jeritan kedua bayi menghilangkan kesakitan dan kepayahannya. Senyum pun kembali menghampiri Adam dan Hawa. Allah telah menganugerahi keduanya dua anak kembar: laki-laki dan perempuan. Adam memberi nama Qabil untuk anak laki-lakinya, dan menamai anak perempuannya: Iqlima. Iqlima memiliki paras yang sangat cantik, sehingga orang tidak akan berpaling jika memandang wajahnya.

Tidak berlangsung lama, setelah melewati beberapa bulan, Hawa hamil lagi. Di perutnya terdapat dua janin bayi lagi yang baru. Dalam masa hamil tersebut Hawa merasakan kebahagiaan dan juga kesakitan, sehingga ia merasa mendekati kematian sebelum anak kembarnya itu lahir. Sembilan bulan pun tiba. Lahirlah anak kembar itu: laki-laki dan perempuan. Laki-laki bernama Habil dan perempuan bernama Lubuda. Adam pun memuji Allah Swt. atas karunia anak tersebut.
****
Setiap orang akan percaya bahwa pendidikan bagi empat anak yang dilahirkan dalam waktu berdekatan sangat penting sekaligus sangat sulit, apalagi pada zaman saat tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali sosok Ibu dan Ayah yang memiliki empat anak. Tidak ada penolong yang lain dalam kesulitan mendidik anak-anak tersebut. Namun Allah Swt. memberkati Adam dalam merawat kedua anak laki-laki dan kedua anak perempuannya. Mereka tumbuh dewasa dalam pengawasan ayah mereka, Adam, dan kasih sayang Ibu mereka, Hawa. Dan Iqlima mampu menyejukkan bagi mereka yang memandangnya, karena dipenuhi kecantikan dan feminim, sedangkan Lubuda tidak secantik Iqlima. Hal tersebut tidak meresahkan Adam dan Hawa, keduanya mencintai Iqlima dan Lubuda sama besarnya.

Qabil dan Habil bekerja membantu Adam a.s. Qabil memilih menjadi petani, mencangkul, dan bercocok tanam, serta memanennya untuk kebutuhan makan keluarganya dan untuk memberi makan binatang ternak yang dipelihara oleh Habil. Habil mengembala ternaknya di ladang yang hijau, agar kualitas peliharaannya baik, sehingga semua anggota keluarganya bisa meminum susunya dan memakan dagingnya. Sementara itu Iqlima dan Lubuda membantu Hawa di rumah. Keduanya menjaga hasil kebun, memasak, dan membuat pakaian dan penutup kepala dari bulu unta dan bulu kambing. Keduanya juga membuat beragam alat untuk beristirahat bagi ketiga laki-laki di rumah itu, yang dengan sekuat tenaga menyiapkan segala kebutuhan keluarga kecil mereka.

Tidak ada hal yang merusak kebahagiaan hidup keluarga sederhana itu. Hingga tibalah masanya anak-anak untuk menikah. Di bumi ini tidak ada yang lain kecuali anak-anak Adam. Allah membolehkan seorang saudara laki-laki menikah dengan saudara perempuannya. Namun dengan satu syarat!! Seorang saudara laki-laki tidak boleh menikah dengan saudara perempuannya yang dilahirkan pada kehamilan yang sama. Namun ia menikah dengan saudara perempuan adiknya. Dengan demikian Qabil menikah dengan Lubuda, dan Habil menikah dengan si cantik Iqlima.
Syariat itu diharamkan kemudian. Manusia bertambah banyak dan berbeda-beda di banyak bangsa. Syariatpun berubah atas perintah Allah. Tidak diperbolehkan seorang laki-laki menikah dengan saudara perempuannya. Selamanya.

Adam berniat mengabarkan hal tersebut kepada anak-anaknya. Adam berkata sambil tersenyum:
―Tibalah waktunya menikah bagi anak-anak kami, sehingga kami akan melihat cucu-cucu." Kedua anak perempuan itu tersipu malu. Dan kedua anak laki-laki itu merasa bahagia. Adam pun melanjutkan perkataannya:
―Qabil akan menikah dengan Lubuda. Habil dengan Iqlima." Saat senyum kebahagiaan mereka belum reda.
Qabil berkata setengah berteriak, dan penuh dendam:
―Habil tidak akan pernah menikahi Iqlima. Iqlima hanya milikku. Aku lebih berhak atas Iqlima dibanding Habil."
Dalam situasi penolakan penuh amarah itu, Adam yang pengasih tidak terpancing, bahkan ia berkata dengan lembut:
―Qabil…, Allah telah mengharamkan Iqlima untukmu. Ia hanya halal untuk Habil. Ini merupakan perintah Allah. Taatlah pada perintah-Nya."
Qabil menjawab:
―Aku tidak akan patuh kecuali pada jiwaku. Aku tidak akan pernah menikah dengan Lubuda yang jelek. Seharusnya ia menikah dengan Habil."

Qabil memandang Iqlima. Ia menemukan kecantikan yang teramat sangat pada diri Iqlima. Ia pun merasakan letupan api yang menyala-nyala di dalam hati dan dadanya. Tidak seorang pun tahu bahwa itu adalah api kedengkian terhadap saudaranya Habil yang tak berdosa. Hanya saja Allah telah menghalalkan baginya menikah dengan Iqlima. Jadi bukan kehendak diri Habil.
Sementara itu di sudut yang jauh, dan tidak seorang pun yang tahu, setan menertawakan sikap Qabil, yakni setelah ia melihat kecantikan pada diri Iqlima, maka ia menyalakan api kedengkian, semangat, dan ketamakan di dadanya; melanggar perintah Allah Swt.
****
Qabil keluar rumah. Api kedengkian hampir saja membakar dan membunuh dirinya. Ia berjalan sambil menunduk tanpa arah tujuan? Ia hanya berjalan terus. Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan: bagaimana caranya agar ia bisa menikah dengan Iqlima. Inilah mangsa bagi setan. Tidak ada kesulitan baginya untuk merayu Qabil, maka ia menghampiri hati Qabil tanpa sepengetahuannya. Setan pun mulai berbisik:
―Habil. Anak itu memiliki tempat yang khusus di hati Adam. Ia lebih mencintai Habil daripada engkau. Adam akan menikahkannya dengan si cantik Iqlima, dan menyisakan untukmu Lubuda yang jelek."
Qabil tergoda oleh rayuan setan. Setan pun menyalakan lagi api rayuannya:
―Habil. Seorang pengembala yang pekerjaannya hanya keluar bersama beberapa kambing dan bersantai di sekitar piaraannya itu. Sementara engkau adalah seorang petani yang bangun pada pagi hari sebelum makhluk yang lain bangun. Engkau bersusah payah mencangkul tanah, menaburkan benih, bercocok tanam, dan memanen hasilnya. Lalu engkau hanya mendatapkan Lubuda, dan Habil berhasil memperoleh Iqlima."

Qabil telah tertutup mata hatinya. Ia lupa bahwa setiap pekerjaan tidak ada yang mudah dan ringan. Kedengkian dan ketamakan telah membutakan Qabil dalam memahami saudaranya. Sebenarnya Habil juga bersusah payah dalam memelihara ternak, memberinya minum dan makan, dan menjaganya dari ancaman serigala. Namun suara kedengkian telah bersemayam dalam hatinya dan semakin bertambah besar sehingga ia berbisik pada dirinya sendiri: ―Aku akan menikahi Iqlima dengan cara apa pun!!"
Akhirnya Qabil pulang ke rumah dan melihat ayahnya yang sedang menunggu kedatangannya. Kesedihan menyelimuti wajah Adam karena takut rayuan setan telah menguasai anaknya, padahal ia tak sedikitpun membedakan anak-anaknya. Adam berkata:
―Perhatikanlah anakku. Qabil, berkurbanlah kepada Allah dengan sesuatu dari hasil kebunmu dan sampaikanlah kurban itu hanya kepada Allah. Demikian pula Habil menyerahkan kurbannya kepada Allah."
―Siapa di antara kalian berdua yang diterima kurbannya, dialah suami Iqlima yang cantik jelita."
Qabil dan Habil menerima tawaran tersebut. Keduanya pun bersiap-siap untuk berkurban kepada Allah.
****
Pada zaman dahulu terdapat banyak keajaiban. Di antara keajaiban itu adalah bahwa ketika seorang hamba berkurban, maka ia meletakkan kurbannya di atas puncak gunung. Jika Allah menerima kurbannya, maka api putih turun dari langit menyambarnya. Namun jika Allah menolaknya, maka kurban itu akan tetap ada, tidak ada yang mendekatinya, baik itu manusia maupun burung, bukti bahwa Allah tidak meridai hamba itu dan kurbannya.

Habil yang baik, pergi ke gunung membawa binatang peliharannya yang paling baik, yaitu yang paling gemuk dan paling kuat, untuk diberikannya kepada Tuhan sebagai kurban. Habil cinta pada Allah, dan pecinta memberi kekasihnya sesuatu yang paling berharga. Sedangkan Qabil, ia telah memilih untuk menikahi Iqlima. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Ia tidak bersusah payah menyiapkan kurban yang baik, bahkan ia berkurban dengan buah dan sayur yang buruk, sebagai kurban untuk Tuhannya.

Dua bersaudara itu berkumpul di tempat yang sama. Keduanya mendaki gunung hingga mencapai puncaknya untuk meletakkan kurban mereka masing-masing. Habil dan Qabil menunggu waktu untuk mengetahui hasilnya. Waktu berlalu terasa sangat lambat. Habil merasa senang dan gembira, karena rida terhadap keputusan (qadha) yang akan diterimanya dari Allah. Qabil berharap pada dirinya sendiri, bahwa kurbannya akan diterima. Jiwanya dipenuhi dengki terhadap saudaranya.
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, api putih yang besar meluncur seperti panah, menyambar kurban Habil dalam sekejap mata. Sedangkan kurban Qabil masih utuh. Allah menghendaki Iqlima untuk Habil. Ia pun bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah.
Setan tidak berhenti merayu Qabil, seperti anak kecil bermain sepak bola. Ia selalu menghadirkan rupa si cantik Iqlima dalam pikiran Qabil. Setan membisikinya bahwa Adam mendoakan Habil, dan tidak mendoakannya. Ia berbisik:
―Kerjakanlah sesuatu sebelum kau kehilangan pujaan hatimu."
―Aku akan membunuhmu, Habil,‖ katanya pada Habil.
Habil menjawab dengan tenang, ―Allah menerima amal orang-orang yang bertakwa."
Habil lebih kuat dibanding Qabil, namun iman mencegahnya untuk melukai dan menjauhi permusuhan. Ia berkata, ‟sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.‟ Maka, nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah ia termasuk orang yang rugi,‖ (QS Al-Maidah [5]: 27-31).
Habil mampu membunuh Qabil atau melindungi dirinya sendiri, namun ia takut kemarahan Allah karena membunuh saudaranya. Ia lebih rida mematuhi perintah Allah, maka ia menolak tipu daya dan bisikan setan. Sedangkan Qabil sudah siap melakukan apa pun demi mendapatkan Iqlima. Qabil meraih batu dan mencari Habil. Saat Habil sedang tekun dengan pekerjaannya, Qabil memukul kepalanya dari arah belakang, darah mengalir, dan ia pun meninggal.
Di tempat yang jauh dari Qabil, setan tertawa riang, setelah ia mampu mengeluarkan kedua orang tuanya dari surge, ia juga mampu membujuk seorang saudara membunuh saudaranya sendiri setelah menanamkan rasa permusuhan di hati Qabil.
Itulah awal perbuatan dosa di dunia, awal darah mengalir, awal bangkai terbujur, dan dosa yang besar adalah membunuh manusia tidak bersalah dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan jalan hak; bahkan sama dengan membunuh seperenam penduduk bumi—jika manusia membunuh manusia lainnya.
***
Qabil tidak pernah melihat mayat sebelumnya, dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika salah di antara mereka meninggal dunia. Ia pun menggendong mayat Habil, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Lalu ia berjalan dengan wajah nampak kehausan dan penuh kasih. Saat merasa letih ia pun beristirahat, sambil duduk. Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang langka, dua ekor burung gagak sedang bertarung, seperti dua orang yang sedang bergulat. Pertarungan semakin sengit sehingga salah satu dari burung itu terbunuh.

Burung gagak yang terbunuh jatuh ke bumi, seperti jatuhnya Habil. Burung gagak yang hidup turun menghampirinya dan meletakkannya di atas tanah. Kedua kakinya menggali lubang, menarik mayat burung itu dan memasukannya ke lubang, lalu menimbunnya dengan tanah. Kemudian burung gagak itu meninggalkannya setelah menguburkannya.

Qabil memahami bahwa Allah mengutus burung gagak itu kepadanya agar mengajarkannya cara menguburkan mayat saudaranya. Ia pun berucap, ―Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" (QS Al-Maidah [5]: 31).

Qabil melangkah, lalu menggali lubang untuk saudaranya. Ia pun menguburkannya, sehingga menjadi kuburan pertama di muka bumi ini.

Adam merasa kehilangan setelah tahu bahwa anaknya terbunuh. Air matanya mengalir, sambil berdoa semoga Allah mengampuni Qabil. Kesedihannya teramat dalam, sehingga Allah menganugerahinya seorang anak lagi yang bernama Syits. Sedangkan Qabil menerima balasan yang serupa; ia dibunuh oleh anaknya sendiri, dan Allah menyiksanya. Sesungguhnya setiap orang yang terbunuh hingga hari kiamat, dosa pembunuhnya dilimpahkan pada Qabil, karena ia merupakan orang pertama yang membunuh.

Demikianlah, burung gagak menjadi guru bagi manusia. Dapatkah kamu memetik pelajaran dari beberapa ayat Al Quran yang mengisahkan kisah Si Gagak di atas? Ini catatan kecilku tentang hikmah yang bisa kita ambil,
  1. Setan merupakan musuh yang nyata bagi manusia, maka wajiblah untuk kita untuk tidak taat padanya.
  2. Taat terhadap perintah Allah dan menjalankan apa yang diwajibkan-Nya pada kita.
  3. Kebencian, kedengkian, dan ketamakan merupakan pintu setan untuk menggoda anak adam.
  4. Menafkahkan di jalan Allah harta yang terbaik.
Semoga dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mewaspai godaan setan yang tak pernah bosan menggoda kita. :)



Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Android Tips, Tecno Android Phones and Download 2go