Selasa, 07 Januari 2014

Hewan yang Diabadikan dalam Al Quran : Unta Nabi Saleh

Kaum ‘Ad hancur setelah kufur terhadap ayat-ayat Allah. Setelah kehancurannya, datanglah kaum yang kuat, berperawakan besar, dan bangunan rumahnya yang kokoh. Di antara kaum tersebut ada yang bernama Umar Al-wahid, yang berumur panjang. Kaum Tsamud, itulah nama kaumnya.
Allah telah menganugerahkan kaum tersebut kekuatan fisik, kesehatan, dan umur panjang. Di antara mereka ada yang membangun rumah dari pohon, daun, dan rantingnya. Namun rumah itu hancur sebelum pemiliknya meninggal. Mereka pun berfikir untuk membangun rumah di gunung, maka mereka membangunnya di bagian tempat tinggal mereka, yaitu Al-Ahqaf.
Di antara mereka ada yang sangat kuat, ia pergi mengambil batu besar, memahatnya, melubanginya, dan menjadikannya sebagai rumah untuknya dan keluarganya.
Inilah bukti kekuatan laki-laki kaum Tsamud. Setelah bergulirnya waktu, manusia lupa nikmat-nikmat Allah, sehingga mereka ingkar pada Allah. Mereka memahat patung, dan menyembahnya seperti yang pernah dilakukan kaum Nuh sebelumnya, yaitu Kaum ‘Ad.

Allah bermaksud memberi petunjuk kepada mereka dengan mengutus seorang laki-laki dari mereka, yang telah mereka kenal akhlak baiknya, keturunannya yang mulia, dan ucapannya yang dapat dipercaya.

Allah mengutus Nabi Saleh a.s. kepada mereka. Ia membawa misi agar kaumnya tidak menyembah patung, namun hanya menyembah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Nabi Saleh menghampiri kaumnya, mengingatkan mereka pada Allah:
―Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” Namun mereka menjawab:
―…mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan pada kami.”(QS Hud, [11]: 62).
Setelah berusaha mengingatkan mereka kepada nikmat-nikmat Allah yang telah mereka rasakan, Nabi Saleh berkata:
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum „Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,‖ (QS Al-A‘raf [7]: 74).

Tidak ada yang beriman kepada Nabi Saleh, kecuali orang-orang yang lemah dari kaumnya, yaitu mereka yang melihat asal-usul yang baik, dan ucapan yang dapat dipercaya dalam diri Nabi Saleh. Mereka beriman kepada utusan yang dapat dipercaya itu. Nabi Saleh selalu menyeru kaumnya, namun mereka tetap mendustakannya, dan tidak beriman padanya. Dia tidak putus asa dan selalu sabar atas kejahatan kaumnya terhadap dirinya dan pengikutnya.

Semakin semangat Nabi Saleh berdakwah, semakin bertambah kaumnya mendustakannya. Mereka meminta Nabi Saleh sesuatu yang aneh.
―Mohonlah pada Tuhanmu agar menurunkan bukti kebenaranmu, sehingga kami percaya pada kerasulanmu.”
―Ya Allah, tunjukanlah pada mereka sebuah bukti agar mereka percaya.”
―Berkumpullah bersama kami pada hari raya. Kami akan meminta bukti dari tuhan kami, dan engkau akan minta bukti pada Tuhanmu.”

Tibalah hari raya itu. Kaum Nabi Saleh berkumpul dengan membawa patung-patung mereka. Mereka sepakat bahwa Nabi Saleh berdoa pada Tuhannya agar menunjukkan sebuah bukti kerasulan, sedangkan mereka berdoa pada tuhan mereka agar tidak mengabulkan doa Nabi Saleh.
Seorang laki-laki kaum Tsamud yang bernama Jundu‘ bin Amr berkata:
―Saleh, keluarkanlah dari batu besar ini seekor unta betina, yang tidak seperti biasanya. Jika engkau mampu kami akan beriman.” Nabi Saleh pun berdoa pada Tuhannya.
Mereka berdoa pada tuhan mereka. Tidak henti-hentinya mereka menertawakan Nabi Saleh yang sedang berdoa pada Tuhannya. Tiba-tiba…batu itu pecah dan keluarlah seekor unta betina yang sedang hamil tua. Ketika semua orang menyaksikannya, unta itu melahirkan anaknya. Jundu‘ dan sebagian kaum Nabi Saleh beriman padanya, sedangkan yang lainnya tetap dalam kekufuran.
Nabi Saleh berkata:
―Unta ini akan minum dalam satu hari, dan kalian minum di hari berikutnya.”

Kaum Tsamud menyaksikan keajaiban unta ini dan anaknya, yaitu meminum air sumur hingga habis. Lalu mereka meminum air susu unta ini hingga kenyang. Pada hari berikutnya giliran mereka yang minum air. Kemudian, esoknya unta itu kembali menghampiri sumur, air pun naik, lalu unta meminumnya sampai habis. Unta itu pun kembali ke asalnya. Demikianlah, seharusnya Tsamud beriman dengan adanya bukti-bukti tersebut. Namun mereka tetap dalam kekufuran dan pembangkangannya.
***
Shunaim bin Harawan menikah dengan seorang perempuan kaya raya bernama Shaduq. Saat ia telah beriman, ia mendermakan hartanya untuk Nabi Saleh dan orang-orang mukmin. Namun Shaduq mencelanya karena ia seorang kafir.

Shaduq membawa anak-anaknya dan menyembunyikan mereka di rumah anak-anak pamannya. ―Kembalikan anak-anakku,” kata Shunaim.
Shaduq menolak permintaan suaminya. Maka keduanya meminta pendapat anak-anak paman Shaduq, sedangkan mereka adalah orang-orang mukmin, sehingga mereka mengembalikan anak-anak itu pada Shunaim. Kebencian Shaduq semakin bertambah terhadap Nabi Saleh a.s. karena suaminya mendermakan harta padanya, beriman, dan memisahkan dirinya dengan anak-anaknya.

Ia memiliki seorang teman, ‘Unaizah bint Ghanam, seorang kafir yang mempunyai seekor kambing yang sedang hamil tua. Ketika kambing itu melihat unta Nabi Saleh, maka ia berlari mendahuluinya, namun ia tidak mendapatkan air untuk diminum. ‘Unaizah pun marah.
Keduanya sama marah terhadap terhadap Nabi Saleh dan orang-orang mukmin, dan sepakat untuk membunuh unta itu, sehingga Nabi Saleh marah karenanya.

Saat keduanya memberikan sejumlah uang pada seorang laki-laki untuk membunuh unta, ia menolaknya. Ia berfikir hal itu perbuatan keji. Unta itu bukan sembarang unta; unta itu bukti yang datang dari sisi Allah.
Namun seorang laki-laki bernama Mushadda‘ bin Mahraj mencintai Shaduq dan ingin memilikinya. Ia setuju untuk membunuh unta itu. Ia mencari orang-orang untuk membantunya melaksanakan perbuatan dosa ini. Quddar bin Salaf, temannya, setuju terhadap rencana jahat itu; ia merupakan orang yang terpandang di kaumnya.

Kemudian keduanya mencari teman lainnya sehingga jumlah mereka menjadi sembilan laki-laki. Mereka berbuat kerusakan di bumi, dan tidak memeliharanya. Mereka beranggapan bahwa Quddar bin Salaf merupakan orang yang paling dirindukan.

Nabi Saleh tinggal di masjid. Kaumnya memberi nama masjid itu ―Masjid Nabi Saleh. Saat subuh tiba, ia menemui kaumnya. Quddar dan para sahabatnya berusaha membunuh Nabi Saleh a.s., namun malaikat menghalangi orang-orang itu, dan melempar mereka dengan batu. Saat mereka putus asa karena tidak mampu membunuh Nabi Saleh, mereka mencari unta nabi Saleh. Quddar bin Salaf mengeluarkan anak panah dan meletakkannya di busurnya, menunggu hingga unta keluar. Panah itu mengenai leher unta, dan matilah unta tersebut. Mereka menghampiri unta dan menyembelihnya, serta memakan dagingnya.

Kaum Nabi Saleh sadar akan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka menemui Nabi Saleh sambil menangis.
―Temuilah anak unta itu. Saat kalian menemukannya, semoga Allah mengampuni dosa kalian,” demikian saran Nabi Saleh a.s. kepada kaumnya.

Saat mereka sedang mencari anak unta itu, mereka menemukannya telah masuk ke dalam batu besar, tempatnya keluar dulu bersama ibunya, setelah ia melenguh dengan keras.
Nabi Saleh tahu bahwa sekarang siksa telah datang pada kaumnya. Kehancuran pasti terjadi pada kaumnya. Ia pun berkata pada kaumnya:
―Bersenang-senanglah di rumah kalian selama tiga hari. Kemudian siksa akan menghampiri kalian. Itulah janji yang pasti ditepati.”

Tanda siksa itu adalah pada hari pertama wajah mereka akan menguning; hari kedua wajah mereka akan memerah; dan hari ketiga wajah mereka akan berubah hitam.
Pada hari pertama mereka mendapati wajah mereka menguning. Masing-masing mereka memberitahukan perubahan tersebut. Demikian pula pada hari kedua wajah mereka berubah merah, seperti yang dikatakan Nabi Saleh, sehingga mereka yakin terhadap siksa itu. Nabi Saleh dan orang-orang mukmin pergi meninggalkan negerinya menuju Syam.
Tibalah hari ketiga, wajah kaum Tsamud menghitam seperti aspal, maka mereka membalsem tubuh mereka, mereka saling mengkafani satu sama lain, menjatuhkan diri mereka di atas tanah, dan menunggu siksa yang akan mereka terima.

Datanglah sebuah teriakan yang keras dari langit (suara yang sangat keras, yang memekakkan telinga, dan mengakibatkan manusia mati karena kerasnya), sehingga hati mereka copot, dan mereka pun mati semuanya. Tidak ada yang tersisa dari mereka, besar maupun kecil. Tidak ada yang selamat kecuali seorang perempuan yang terus berlari; ia kafir, ia meninggal saat meminum air. Sebelum meninggal ia sempat menceritakan apa yang terjadi pada kaumnya.
Sedangkan Nabi Saleh dan orang-orang mukmin selamat. Mereka tinggal di Syam, hingga nabi Nabi Saleh a.s. meninggal dunia.

Nabi Muhammad Saw. pernah melewati negeri kaum Tsamud saat perjalanannya menuju Perang Tabuk. Orang-orang muslim minum dari sumur-sumur negeri itu dan mengadon gandum dengan air ini, maka Nabi meminta mereka memuntahkan air yang telah diminum oleh mereka dan tidak mengadon dengan airnya. Nabi meminta mereka minum dari sumur yang dipakai unta tempat minumnya. Nabi dan para sahabat menangis saat memasuki negeri itu, sehingga mereka tidak mengalami apa yang terjadi pada kaum Tsamud sebelumnya.

Berikut beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kisah di atas, semoga dapat menunjukkan pada kita Maha Besarnya Dia
  1. Kita harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
  2. Tidak boleh takabur atas kekuatan yang Allah berikan pada seorang kita, karena kekuatan Allah amat luas. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  3. Bersyukur atas segala nikmat Allah, dan tidak mengingkarinya.
  4. Kemaksiatan akan mengakibatkan siksa yang besar.
 
 
Sumber :
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31659724/Kisah_Burung_dan_Hewan_dalam_Al-Quran_.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1389114308&Signature=ZBA2yZB4mSWiHSWO%2F6rfOUl%2BcVU%3//s3D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Android Tips, Tecno Android Phones and Download 2go